FILM, Lajuberita.id – Buat kalian yang demen film-film aneh tapi seru dan kadang bikin ngakak, pasti udah enggak asing sama yang namanya Nicolas Cage. Aktor satu ini punya daya tarik magnetis yang unik.
Mau filmnya bagus banget atau jelek banget, aktingnya selalu all-out dan sering kali jadi bahan meme. Nah, salah satu filmnya yang kadang suka terlupakan tapi premisnya keren pol adalah Next (2007). Disutradarai oleh Lee Tamahori, film ini mengusung genre sci-fi action thriller yang diadaptasi dari cerita pendek legendaris Philip K. Dick berjudul “The Golden Man”.
Film ini bercerita tentang Cris Johnson, seorang pesulap kelas kakap yang woles dan santai abis di Las Vegas. Tapi, Cris bukan pesulap biasa. Dia punya kemampuan precognition alias bisa ngeliat masa depan.
Masalahnya, kekuatannya ini terbatas banget. Dia cuma bisa ngintip dua menit ke depan, enggak lebih. Kemampuan ini bikin hidupnya nyaman, bisa ngehindarin masalah atau nge-judi kecil-kecilan di kasino buat nyambung hidup. Nah, keunikan film ini adalah, meskipun dirilis di tahun 2007, ceritanya yang preposterous alias konyol tapi bikin penasaran ini justru jadi relevan banget buat audiens sekarang. Di era digital di mana kita sering nyari “hidden gem” atau “guilty pleasure” yang enggak mainstream di platform streaming, Next ini cocok banget buat jadi pilihan.
Ini bukan tipe film blockbuster yang sempurna, tapi justru ketidaksempurnaannya itu yang membuatnya jadi materi yang relatable dan gampang jadi bahan obrolan santai bareng teman.
Plot Kilat & Inti Cerita: Ketika Peramal Kelas Kakap Kena Sial Gara-gara Cewek
Jagoan Magician yang Santai Abis dan Pede Banget
Cris Johnson, yang diperankan dengan sangat Nicolas Cage-esque oleh Nicolas Cage, adalah karakter yang mager banget buat jadi pahlawan. Dia cuma pengen hidup tenang dan woles di Las Vegas, mengandalkan kekuatannya buat ngehindarin masalah sepele di kasino.
Dengan kemampuan melihat dua menit ke depan, dia bisa banget menghindari semua security kasino, polisi, bahkan lalu lintas yang padat, bikin dia kelihatan jagoan beud. Premis ini langsung disajikan di awal film dan membuat kita sebagai penonton tertarik, seolah-olah film ini menjanjikan cerita sci-fi thriller yang penuh aksi dan adu cerdas.
Namun, ada satu hal yang bikin kekuatannya ini jadi unik, yaitu visi yang ia punya tentang seorang perempuan yang akan masuk ke sebuah restoran di jam 08:09 pagi. Anehnya, visi ini enggak cuma dua menit, tapi jauh lebih panjang, dan ini jadi satu-satunya visi yang ia punya yang enggak bisa ia ubah, seolah-olah takdirnya sudah ditentukan.
Konflik Mendadak: FBI vs. Nicolas Cage yang Mager
Hidup woles Cris tiba-tiba berubah kacau total ketika ia dilacak oleh Agent Callie Ferris (Julianne Moore), seorang agen FBI yang gercep dan ngotot banget. Ferris sadar akan kemampuan Cris dan butuh bantuannya untuk melacak sekelompok teroris Perancis yang berencana meledakkan bom nuklir di Los Angeles. Nah, di sinilah keanehan plot film ini dimulai. Alih-alih langsung jadi pahlawan super dan membantu FBI menyelamatkan dunia, Cris malah menolak mentah-mentah dan kabur.
Bukannya mengejar teroris yang membawa bom nuklir, Agent Ferris justru menghabiskan waktu, tenaga, dan sumber daya tim FBI-nya untuk mengejar Cris. Adegannya ini absurd banget, bikin penonton antara bingung dan ketawa.
Pimpinan Agent Ferris bahkan mempertanyakan rencana gila ini, tapi dia enggak peduli. Sikap Cris yang anti-authoritarian dan gak mau diatur adalah alasan utama kenapa dia menolak membantu. Seperti yang dia bilang, “apa yang gue mau itu freedom. Dan lo gak bisa dapetin itu dengan cara nyerahin diri”.
Sikap ini menciptakan hubungan sebab-akibat yang aneh: keengganan protagonis untuk membantu menyebabkan plot utama berfokus pada kejar-kejaran yang sebenarnya enggak penting, padahal ancaman teroris sudah di depan mata. Ini membuat film ini berbeda dari film aksi pada umumnya dan memancing rasa gregetan penonton.
Niat Cari Pacar, Eh Malah Ketemu Teroris Beneran
Di tengah kejar-kejaran yang bikin pusing itu, Cris tetap gc alias gerak cepat mengejar satu-satunya hal yang penting buat dia: Liz Cooper (Jessica Biel), perempuan dari visinya. Ketika akhirnya mereka bertemu di sebuah restoran, Cris menggunakan kekuatannya untuk melihat ending percakapan yang terbaik, bahkan menghindari mantan pacar Liz yang agresif. Interaksi mereka ini terasa baper banget, seolah-olah film ini bakal jadi romantic thriller.
Namun, plot romansa ini justru jadi salah satu kelemahan film ini. Beberapa kritikus menyebutnya sebagai elemen yang shoehorned alias dipaksakan, dan karakter Liz itu sendiri dianggap “unimportant and narratively disposable” atau enggak penting dan gampang banget dibuang dari cerita. Film ini memang punya drastic tonal shifts yang enggak nyambung. Satu menit adegannya romantis, menit berikutnya Cris udah harus ngehindarin peluru dan mobil meledak.
Transisinya yang enggak mulus ini justru mengalihkan fokus dari ancaman bom nuklir yang seharusnya jadi inti cerita. Hal ini bisa dimaknai sebagai kritik yang valid terhadap klise Hollywood yang sering memaksakan cerita romansa ke dalam genre lain.
Analisis Dalam & Kritik Jujur: Kenapa Next Jadi Film Unik yang Beda dari yang Lain
Kekuatan Ajaib yang Logikanya Bikin Pala Pusing
Next itu tipe film yang harus ditonton dengan santai, jangan terlalu dipikirin logikanya. Soalnya, kalau dipikirin, kekuatannya Cris itu gaje beud. Kenapa dia bisa punya visi panjang tentang Liz padahal batasnya cuma dua menit? Lalu, bagaimana dia bisa melihat semua kemungkinan tanpa menjadi “gibbering, incoherent mess”?. Logika di balik kekuatannya ini terasa sangat kacau dan enggak konsisten.
Namun, alih-alih cuma menganggapnya sebagai plot hole yang buruk, kita bisa melihatnya sebagai alat penceritaan. Kekuatan Cris tidaklah maha tahu, tapi lebih seperti alat untuk membuat keputusan. Dia bukan cuma melihat masa depan, tapi juga melihat bagaimana tindakannya bisa mempengaruhi masa depan itu. Ini adalah inti dari tema film ini: pilihan dan kehendak bebas melawan takdir. Dengan kata lain, keanehan logika ini bisa jadi disengaja untuk memfokuskan cerita pada aspek filosofis, bukan pada penjelasan sains yang rumit.
Karakter yang Mager Tapi Malah Bikin Gregetan
Karakter Cris Johnson yang un-heroic adalah daya tarik utama film ini. Dia menolak tanggung jawab besar dan hanya ingin hidup damai. Sikapnya ini berbeda jauh dari stereotip pahlawan film pada umumnya yang rela berkorban demi orang banyak. Keengganannya ini justru membuatnya terasa lebih manusiawi dan real-talk, seolah-olah kita melihat bagaimana orang normal akan bereaksi jika tiba-tiba punya kekuatan super.
Tapi, di sisi lain, sikap ini juga jadi kelemahan. Plot terasa lambat dan enggak efisien karena kita harus menyaksikan kejar-kejaran yang seharusnya bisa dihindari sejak awal. Pendekatan ini memang membedakan Next dari film aksi lainnya, karena fokusnya lebih ke drama personal dan filosofis (kebebasan versus tanggung jawab) daripada aksi sat-set yang enggak ada habisnya.
Plot Twist Paling Kaco (TAPI GAK SPOILER-SPOILER AMAT!)
Adegan Paling Ikonik: Bom Meledak di Los Angeles?
Film ini memiliki satu adegan yang benar-benar enggak terduga dan bikin penonton melongo. Setelah Cris dan Liz akhirnya tertangkap, Cris dibawa ke pelabuhan tempat para teroris bersembunyi. Namun, mereka terlambat, dan bom nuklir sudah dipindahkan. Cris kemudian melihat ke layar seismograf dan menyadari kalau dia sudah terlambat. Dalam sebuah adegan yang dramatis, bom itu meledak di tengah laut, menghancurkan seluruh pelabuhan dan kota Los Angeles. Adegan ini terasa seperti pukulan telak yang membuat kita berpikir, “Oh, jadi akhirnya gini? Pahlawannya kalah?”
Namun, di sinilah kejeniusan film ini. Ternyata, seluruh film yang kita tonton, semua kejar-kejaran yang gaje dan percintaan yang gak pede itu hanyalah sebuah visi. Itu adalah simulasi masa depan yang akan terjadi jika Cris Johnson tidak berubah pikiran dan membantu FBI dengan tulus. Penggunaan plot twist ini sangat berani dan cerdas. Ini bukan sekadar akhir cerita yang tak terduga, tetapi juga penegasan tema utama film tentang kehendak bebas dan pilihan. Ini juga menjelaskan mengapa alur ceritanya bisa terlihat kacau—karena semua yang kita lihat adalah masa depan yang gagal.
Lantas, Apa yang Terjadi Next?
Setelah melihat kehancuran di Los Angeles dalam visinya, Cris Johnson sadar bahwa dia harus melakukan sesuatu. Dia kembali ke awal, saat visinya itu terjadi, dan mengambil keputusan yang berbeda. Kali ini, dia memutuskan untuk sepenuhnya bekerja sama dengan FBI. Dengan bantuan Agent Ferris, Cris menggunakan kekuatannya untuk mengecoh teroris, menghindari peluru dengan mudah, dan akhirnya berhasil menggagalkan rencana bom nuklir tersebut.
Akhir cerita yang cerdas ini memberikan re-watch value yang tinggi bagi penonton. Setelah tahu plot twist-nya, kita jadi pengen nonton ulang film ini untuk melihat kembali semua detail dan petunjuk yang mungkin kita lewatkan. Ini menegaskan bahwa film ini tidak hanya tentang aksi, tetapi juga tentang tema filosofis yang lebih dalam: bahwa masa depan tidaklah tetap dan kita selalu punya pilihan untuk mengubahnya.
Kesimpulan & Rekomendasi: Next Itu Guilty Pleasure yang Patut Dicoba
Secara keseluruhan, Next adalah film yang preposterous dan gaje dalam banyak hal, terutama dari segi logika. Plotnya kacau dan pergeseran nadanya terkadang membuat bingung. Namun, film ini punya premis yang unik dan cerdas, dengan plot twist yang sabi banget di akhir cerita. Ini adalah tipe film yang tidak perlu dipikirkan secara mendalam layaknya masterpiece sinematik, melainkan dinikmati sebagai “guilty pleasure” yang menghibur dan bisa jadi bahan diskusi seru.
Film ini direkomendasikan buat kalian yang: (1) Suka film sci-fi dengan ide-ide unik, (2) Penggemar Nicolas Cage dan aktingnya yang nyentrik, dan (3) Cari tontonan yang bisa jadi bahan real talk bareng teman-teman. Setelah nonton, kita bisa berdiskusi santai: “Kalo punya kekuatan precognition 2 menit, kalian bakal ngapain? Judi kayak Cris, atau nyelametin dunia?” (ndy)