Bukan Sekadar Perayaan HUT RI ke-81, Edi Purwanto Soroti Nasib Rakyat: 22,93 Juta Miskin dan 1,03 Juta Sarjana Menganggur

Bukan Sekadar Perayaan HUT RI ke-81, Edi Purwanto Soroti Nasib Rakyat: 22,93 Juta Miskin dan 1,03 Juta Sarjana Menganggur
Bukan Sekadar Perayaan HUT RI ke-81, Edi Purwanto Soroti Nasib Rakyat: 22,93 Juta Miskin dan 1,03 Juta Sarjana Menganggur. Foto: Istimewa

Opini Oleh : Edi Purwanto *

Memasuki usia 81 tahun Kemerdekaan Republik Indonesia, saya melihat bahwa kita tidak boleh hanya berbicara mengenai capaian yang sudah berhasil diraih. Tentu kita patut bersyukur atas berbagai kemajuan yang telah dicapai bangsa ini, tetapi pada saat yang sama kita harus jujur bahwa masih ada pekerjaan rumah besar yang harus diselesaikan bersama.

Kemerdekaan harus kita isi dengan kerja nyata. Ukuran keberhasilan pembangunan bukan hanya berapa banyak program yang sudah dibuat atau berapa besar anggaran yang sudah dibelanjakan, tetapi seberapa jauh masyarakat merasakan manfaatnya.

Masih ada persoalan kemiskinan, pengangguran, kesehatan, pendidikan, kesejahteraan guru, serta infrastruktur yang harus kita jawab. Semua persoalan tersebut tidak bisa diselesaikan dengan satu kebijakan atau dalam waktu singkat. Dibutuhkan keseriusan, keberanian mengambil keputusan, pengawasan yang kuat, dan yang paling penting adalah kerja bersama.

Data terbaru Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa persentase penduduk miskin Indonesia pada Maret 2026 berada di angka 8,07 persen, atau sekitar 22,93 juta orang. Angka tersebut memang turun dibandingkan periode sebelumnya, tetapi jumlahnya tetap menunjukkan bahwa persoalan kemiskinan masih menjadi pekerjaan besar bangsa ini.

Bagi saya, setiap angka tersebut bukan sekadar statistik. Di balik angka 22,93 juta itu ada keluarga, ada anak-anak, ada orang tua, ada pekerja, dan ada masyarakat yang masih berjuang memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Karena itu, kita tidak boleh cepat berpuas diri.

Kemiskinan Masih Menjadi Tantangan Besar

Kemiskinan merupakan salah satu persoalan paling mendasar yang harus kita selesaikan.
Saya melihat penurunan angka kemiskinan sebagai sesuatu yang patut diapresiasi. Namun, kita juga harus melihat persoalannya secara lebih dalam. Kemiskinan bukan hanya mengenai apakah seseorang berada di bawah garis kemiskinan atau tidak.

Ada persoalan akses pendidikan, kesehatan, pekerjaan, perumahan, pangan, serta kesempatan ekonomi yang juga harus diperhatikan.

Data BPS mencatat garis kemiskinan nasional pada Maret 2026 sebesar Rp669.235 per kapita per bulan. Kemiskinan di perdesaan juga masih lebih tinggi dibandingkan perkotaan, yakni 10,67 persen berbanding 6,34 persen.

Artinya, pembangunan harus semakin memperhatikan masyarakat di daerah.

Kita tidak boleh membiarkan masyarakat yang tinggal jauh dari pusat pertumbuhan ekonomi terus tertinggal. Pembangunan harus membuka akses agar masyarakat desa memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang.

Kita harus menciptakan lapangan pekerjaan, memperkuat ekonomi lokal, meningkatkan produktivitas, memperbaiki akses pendidikan dan kesehatan, serta memastikan pembangunan infrastruktur benar-benar membuka konektivitas masyarakat.

Kemiskinan tidak cukup diatasi dengan bantuan.
Bantuan memang penting bagi masyarakat yang membutuhkan, tetapi dalam jangka panjang kita harus membangun kemandirian ekonomi. Masyarakat harus mendapatkan kesempatan untuk bekerja, berusaha, menghasilkan pendapatan, dan meningkatkan taraf hidup.

* Edi Purwanto, Anggota Komisi V DPR RI Dapil Provinsi Jambi

BACA SELENGKAPNYA DI JAMBISERU.COM

Pos terkait