FILM, Lajuberita.id – Berikut drama Korea yang bikin kita mikir soal cinta. Ada juga yang bikin mikir soal keluarga, ambisi, dan masa lalu. Tapi Cashero ini beda. Ia bikin kita mikir soal satu hal yang sangat dekat, sangat nyata, dan sering bikin stres: uang.
Saya nonton Cashero dengan ekspektasi sederhana. Judulnya saja sudah terasa seperti permainan kata—cash dan hero. Saya kira ini cuma drama ringan tentang pahlawan super dengan konsep nyeleneh. Tapi ternyata, di balik premis yang terkesan lucu, Cashero menyimpan kritik sosial yang cukup pedas, dan justru terasa relevan dengan kehidupan banyak orang.
Drama ini seperti bercermin. Kadang bikin senyum, kadang bikin geleng kepala, dan di beberapa titik… bikin kita diam sebentar.
Premis Unik: Kekuatan Super yang
Bergantung pada Uang
Tokoh utama Cashero bukan manusia super dengan kekuatan lahir dari laboratorium atau kecelakaan kosmik. Ia hanyalah orang biasa, kelas pekerja, dengan penghasilan pas-pasan. Namun suatu hari, ia menyadari satu hal aneh: kekuatan supernya muncul seiring dengan jumlah uang yang ia miliki.
Semakin banyak uang, semakin kuat dirinya.
Semakin tipis dompet, semakin lemah pula ia.
Konsep ini terdengar absurd, tapi justru di situlah kekuatannya. Cashero secara satir menampar realitas modern: bahwa di dunia sekarang, uang memang sering kali menentukan segalanya. Kepercayaan diri, posisi sosial, bahkan keberanian untuk bersuara.
Drama ini tidak menjual fantasi kosong. Ia menjual kenyataan yang dibungkus kostum superhero.
Pahlawan Super yang Tidak Glamor
Yang menarik, Cashero tidak berusaha membuat tokoh utamanya tampak keren berlebihan. Tidak ada markas rahasia megah. Tidak ada teknologi canggih ala miliarder jenius. Yang ada justru kecemasan soal tagihan, cicilan, dan gaji yang selalu habis sebelum akhir bulan.
Ini pahlawan super versi realitas Asia Timur—dan mungkin Asia secara umum.
Setiap kali tokoh utama harus memilih antara menggunakan uang untuk hidupnya sendiri atau mengorbankannya demi orang lain, konflik batin terasa nyata. Karena ini bukan soal menyelamatkan dunia dari alien, tapi soal bertahan hidup sambil tetap menjadi manusia yang bermoral.
Kritik Sosial yang Halus tapi Mengena
Cashero cerdas dalam menyampaikan kritik sosial tanpa harus berteriak. Ia tidak menggurui. Ia membiarkan penonton menyimpulkan sendiri.
Tentang:
Ketimpangan ekonomi
Tekanan hidup kelas menengah ke bawah
Sistem yang membuat orang baik sering kali harus berkorban lebih besar
Dan ironi bahwa untuk berbuat baik, sering kali dibutuhkan uang
Drama ini seolah bertanya:
“Apakah orang miskin punya kemewahan untuk menjadi pahlawan?”
Pertanyaan itu tidak dijawab secara hitam-putih. Justru di situlah kekuatan Cashero.
Karakter yang Relatable, Bukan Sempurna
Tokoh utama Cashero jauh dari kata sempurna. Ia ragu. Ia takut. Ia kadang egois. Kadang ingin menyerah. Dan itu membuatnya terasa manusiawi.
Karakter pendukungnya pun tidak sekadar tempelan. Mereka hadir sebagai representasi realitas sosial: teman kerja, keluarga, masyarakat sekitar, bahkan figur-figur yang memanfaatkan situasi.
Tidak ada antagonis satu dimensi. Yang ada adalah sistem, keadaan, dan pilihan hidup yang rumit.
Alur Cerita: Pelan tapi Bertujuan
Bagi penonton yang suka drama cepat dan penuh ledakan konflik, Cashero mungkin terasa agak pelan di awal. Tapi ritme ini justru memberi ruang untuk membangun emosi.
Drama ini tidak terburu-buru. Ia membiarkan kita memahami tekanan hidup tokohnya, sehingga setiap keputusan terasa berbobot. Saat konflik memuncak, kita paham apa yang dipertaruhkan—bukan hanya uang, tapi harga diri dan kemanusiaan.
Pesan Moral yang Tidak Menggurui
Yang saya suka, Cashero tidak memaksakan pesan moral klise. Ia tidak bilang “uang bukan segalanya” dengan cara naif. Justru sebaliknya, drama ini jujur mengakui bahwa uang memang penting, tapi bukan satu-satunya penentu nilai manusia.
Kebaikan dalam Cashero tidak selalu datang dari pengorbanan besar. Kadang ia hadir dalam pilihan kecil yang berat.
Dan sering kali, pahlawan bukan mereka yang paling kuat, tapi mereka yang tetap memilih benar meski sedang tidak punya apa-apa.
Kenapa Cashero Layak Ditonton?
Beberapa alasan kenapa Cashero pantas masuk daftar tontonan:
Konsep unik dan segar di tengah banjir drama Korea bertema cinta.
Relatable secara emosional, terutama bagi penonton kelas pekerja.
Kritik sosial cerdas tanpa terasa menggurui.
Karakter manusiawi dengan konflik nyata.
Cocok ditonton sambil refleksi diri, bukan sekadar hiburan kosong.
Superhero Paling Jujur soal Hidup
Setelah menonton Cashero, satu hal terasa jelas: ini bukan drama tentang menjadi kuat, tapi tentang bertahan dengan nilai-nilai di dunia yang sering kali tidak adil.
Cashero mengingatkan kita bahwa di balik kostum superhero, ada manusia biasa yang juga lelah, takut, dan bingung. Dan mungkin, justru di situlah letak kepahlawanan yang sesungguhnya.
Drama ini tidak menjanjikan jawaban mudah. Tapi ia menawarkan cermin. Dan kadang, itu jauh lebih berharga. (don)





