Kesan Nonton Film Jepang As the Gods Will: Saat Permainan Anak-Anak Menjadi Hukuman Mati Paling Sadis

Kesan Nonton Film Jepang As the Gods Will: Saat Permainan Anak-Anak Menjadi Hukuman Mati Paling Sadis
Kesan Nonton Film Jepang As the Gods Will: Saat Permainan Anak-Anak Menjadi Hukuman Mati Paling Sadis. Foto: Istimewa

FILM, Lajuberita.id – Ini film yang ditonton untuk hiburan.
Ada film yang ditonton untuk mengisi waktu.
Dan ada film yang setelah selesai, membuat kepala terasa berat dan pikiran tidak langsung pulih.

As the Gods Will masuk kategori terakhir.
Film Jepang karya Takashi Miike ini bukan hanya brutal secara visual, tetapi juga kejam secara psikologis. Ia memaksa penontonnya duduk diam, menyaksikan bagaimana manusia tunduk, patuh, dan saling mengorbankan diri… hanya demi bertahan hidup satu menit lebih lama.

Bacaan Lainnya

Dan yang paling ironis:
semua teror itu dibungkus dengan permainan anak-anak.

Dari Kebosanan Hidup ke Arena Kematian
Tokoh utama film ini, Shun Takahata, adalah gambaran remaja modern yang kehilangan arah. Hidupnya aman, sekolahnya normal, tapi jiwanya kosong. Ia bosan, lelah, dan tidak menemukan makna hidup.
Sekolah baginya hanyalah rutinitas.
Hari-hari berjalan tanpa tujuan.
Sampai suatu hari, kebosanan itu “dijawab” dengan cara paling ekstrem.

Sebuah boneka Daruma raksasa muncul di kelas, dan permainan sederhana Daruma-san ga koronda berubah menjadi seleksi alam berdarah. Aturannya mudah: jangan bergerak saat Daruma menoleh. Konsekuensinya kejam: kepala meledak tanpa ampun.
Tidak ada intro panjang.
Tidak ada penjelasan logis.
Film langsung melempar penonton ke neraka.

Ketika Aturan Lebih Ditakuti daripada Kematian

Hal paling mengganggu dari As the Gods Will bukan hanya kematiannya, tetapi kepatuhan manusia terhadap sistem yang jelas tidak masuk akal.

Alih-alih melawan, sebagian besar karakter:
berusaha memahami aturan
berlomba menjadi yang paling patuh
saling menjatuhkan demi bertahan
percaya bahwa mengikuti permainan adalah satu-satunya jalan hidup

Ini terasa seperti sindiran telak terhadap masyarakat modern:
kita sering kali lebih takut melanggar aturan daripada mempertanyakan keadilannya.
Takashi Miike seakan berkata:
selama manusia masih takut pada sistem, permainan akan terus berjalan.

Absurd, Sadis, Tapi Sarat Simbol
Boneka-boneka yang digunakan dalam film ini bukan pilihan sembarangan. Daruma, Maneki Neko, Kokeshi—semuanya simbol budaya Jepang yang biasanya membawa makna harapan, keberuntungan, dan kepolosan.

Di tangan Miike, simbol-simbol itu berubah menjadi algojo.

Kontras inilah yang membuat film terasa semakin tidak nyaman. Kita tidak sedang menonton monster asing, tetapi ikon budaya sendiri yang berbalik menghukum manusia.
Setiap permainan terasa:
konyol di permukaan
sederhana secara aturan
mematikan dalam eksekusi
Dan justru karena terlihat “main-main”, kematian terasa lebih kejam.

Kritik Sosial yang Tidak Berteriak, Tapi Menampar

Di balik darah dan absurditas, As the Gods Will sebenarnya adalah film kritik sosial. Tentang sistem pendidikan, tekanan sosial, dan hidup yang diarahkan tanpa memberi ruang untuk memilih.

Sekolah dalam film ini bukan tempat belajar, tetapi ruang seleksi. Yang cerdas bertahan sedikit lebih lama. Yang egois mengkhianati. Yang lemah tersingkir lebih cepat.
Tidak ada keadilan.
Tidak ada empati.
Yang ada hanya hasil.
Dan itu terasa sangat dekat dengan realitas.

Perbandingan dengan Battle Royale dan Alice in Borderland

Jika Battle Royale adalah kritik keras tentang negara dan kekuasaan, maka As the Gods Will lebih sinis. Ia tidak menyalahkan pemerintah secara langsung, tetapi mempertanyakan mentalitas manusia yang pasrah.

Sementara Alice in Borderland memberi ruang strategi dan kecerdasan, As the Gods Will justru menunjukkan bahwa kepatuhan membabi buta sering kali menjadi jebakan.
Film ini tidak memberi harapan palsu. Ia jujur, dingin, dan tanpa kompromi.

Shun Takahata dan Pencarian Makna Hidup
Shun bukan pahlawan klasik. Ia ragu, takut, dan sering tampak biasa saja. Namun justru dalam situasi ekstrem, ia mulai bertanya: untuk apa aku hidup?

Pertanyaan sederhana itu menjadi inti film.
Ketika hidup dipertaruhkan setiap detik, semua topeng runtuh. Yang tersisa hanya satu hal: kesadaran untuk memilih.
Dan mungkin, di situlah pesan terbesar film ini.

Brutal Bukan untuk Sensasi, Tapi untuk Cermin

Banyak yang menyebut film ini sadis berlebihan. Namun jika diperhatikan, kekerasannya tidak pernah benar-benar terasa glamor. Ia kasar, cepat, dan sering datang tanpa peringatan.

Seperti kematian di dunia nyata.
Takashi Miike tidak ingin penonton menikmati darah. Ia ingin penonton merasa tidak aman, tidak nyaman, dan terusik.
Karena film ini bukan tentang kematian.
Film ini tentang ketakutan hidup tanpa makna.

Kesan Akhir: Film Tidak Ramah, Tapi Perlu Ditonton

As the Gods Will bukan film yang akan direkomendasikan untuk semua orang. Ia berat, brutal, dan tidak memberi jawaban manis.

Namun bagi penonton yang siap, film ini adalah pengalaman sinematik yang mengguncang. Ia memaksa kita bercermin dan bertanya:
selama ini, permainan apa yang sedang kita ikuti?
aturan siapa yang kita patuhi?
dan apakah kita benar-benar memilih hidup kita sendiri?
Film ini selesai, tapi pertanyaannya tidak. (don)

Pos terkait